Pembangunan tanggul darurat secara swadaya dilakukan warga di Desa Pantai Bahagia, Muaragembong | Dok. Sekdes Desa Pantai Bahagia
LingkariNews – Meluapnya air hingga jebolnya tanggul Sungai Citarum pada Selasa (20/1), menyebabkan ribuan rumah warga di Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi terendam banjir.
Berdasarkan data Pemerintah Desa Pantai Bahagia, ketinggian air banjir mencapai rata-rata 40–70 sentimeter. Sebanyak 1.586 kepala keluarga (KK) terdampak, dengan rincian sebagai berikut: Dusun 1 RW.001 sebanyak 593 KK, Dusun 1 RW.002 sebanyak 151 KK, Dusun 2 RW.003 sebanyak 349 KK, dan Dusun 3 RW.006 sebanyak 493 KK.
Keadaan Terkini
Per 26 Januari 2026, ketinggian air kembali meningkat. Air sempat surut pada 28 Januari, namun hujan dengan intensitas tinggi kembali menyebabkan air naik pada 29 Januari.
Warga telah membangun tanggul darurat secara swadaya. Bantuan dari relawan dan pemerintah sudah mulai masuk, namun jumlahnya masih belum mencukup untuk menahan luapan air sungai.
“Bantuan memang sudah masuk, dari relawan dan pemerintah. Dari BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kab. Bekasi ada 1.000 karung. Tapi, masih kurang. Kita butuh diangka 5.000–10.000 karung,” kata Ahmad Qurtubi, Sekretaris Desa di Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi, pada Kamis (29/1/2026).
Bukan Hanya Perkara Tanggul Jebol
Banjir yang kini melanda Muaragembong bukan semata-mata disebakan oleh tanggul jebol. Perubahan iklim turut menjadi faktor utama. Curah hujan kini sulit diprediksi, intensitas hujan semakin sering dan lebat, sementara daya resap tanah semakin menurun.
Kondisi tersebut menyebabkan debit air Sungai Citarum meningkat drastis. Air meluap, diperparah oleh kondisi tanggul yang sudah lapuk, sehingga banjir merendam kawasan permukiman warga.
Bahkan, menurut keterangan Qurtubi yang telah tinggal di Muaragembong sejak 1978, intrusi air laut dulunya jarang terjadi, terutama saat musim kemarau. Jika pun terjadi, hanya berlangsung singkat selama satu hingga dua bulan. Namun, dalam sepuluh tahun terakhir, intrusi air laut pun terjadi saat musim hujan, menyebabkan air sungai menjadi asin.
Intrusi air laut mengancam sumber air tawar tanah karena air menjadi payau hingga asin. Air dengan kadar garam tinggi tidak dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga. Selain itu, konsumsi air asin berisiko menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, seperti hipertensi, stroke, penyakit kulit, hingga gangguan sistem pernapasan.
Dampak dan Harapan
Dampak banjir juga meluas ke berbagai sektor kehidupan. Sekolah-sekolah diliburkan. Aktivitas ekonomi warga terhenti. Nelayan dan pedagan kecil terpaksa meliburkan diri karena jalur utama tertutup genangan air. Para nelayan bahkan memilih tidak melaut dan ikut membantu pembangunan tanggul darurat.
Qurtubi berharap permasalahan banjir, tanggul jebol di Muaragembong mendapat atensi serius dari pemerintah. Menurutnya, solusi yang dibutuhkan bukan hanya pembangunan tanggul secara permanen, tetapi penataan wilayah hulu Sungai Citarum juga perlu.
“Bukan hanya tanggul, tapi di hulu perlu ditata. Resapan air, ruang hijaunya, karena pohon menyerap dan menyimpan air,” jelasnya.
Saat ini, kondisi di bagian muara sungai mengalami pendangkalan, serta penyempitan alur sungai di wilayah tengah, khusunya Desa Jayasakti, Kecamatan Muaragembong. Selain itu, banyak tanggul yang sudah berada dalam kondisi kritis.
“Banyak titik tanggul yang sudah kritis. Karena kan air ke muara itu deras, menyebakan erosi di sisi-sisi tanggul,” pungkasnya.
Oleh karena itu, solusi konkret dan berkelanjutan perlu segera dilakukan. Menurut keterangannya, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, sebelumnya telah melakukan pengecekan dan survei. Namun, dari total bentangan tanggul sepanjang, 11,7 kilometer di sisi timur, tanggul yang terpasang baru sekitar 1,2 kilometer.
(NY)
Sumber
https://www.tanindo.net/intrusi-air-laut/
Data laporan Pemerintah Desa Pantai Bahagia