Memahami Apa yang Terjadi dengan Sungai Batang Ombilin Pasca Banjir di Sumatera Barat, Ini Penjelasan Para Ahli

Sungai 16 Des 2025 217 kali dibaca
Gambar Artikel Ilustrasi aliran sungai yang tampak jernih dan berwarna kehijauan

LingkariNews – Pasca banjir melanda di tiga provinsi Sumatera, media sosial sempat dikejutkan dengan video Sungai Batang Ombilin di Sumatera Barat yang tampak jernih berwarna hijau zamrud. Pada umumnya, air pasca banjir akan tampak berwarna coklat dan keruh. Tak jarang yang meragukan bahwa video tersebut merupakan hasil rekayasa AI (Artificial Intelligence). 

Apakah ini sungguhan atau benar hanya rekayasa?

Ini Penjelasan Ahli Soal Perubahan Warna Sungai

Peneliti Ahli Utama Oseonografi dan Lingkungan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), M. Reza Cordova, menyampaikan bahwa perubahan warna air sungai menjadi jernih atau hijau zamrud sangat berpeluang terjadi secara alami. Kondisi ini didukung oleh faktor geografis tertentu. 

Salah satu pendukungnya adalah Sungai Batang Ombilin yang memperoleh aliran langsung dari Danau Singkarak, danau yang sejak awal memang memiliki karakter warna biru kehijauan.

Reza kemudian menguraikan proses ilmiah yang menyebabkan perubahan warna tersebut. Hujan deras dan banjir yang terjadi sebelumnya justru berfungsi seperti proses pembersihan alami sungai. Ketika debit banjir mulai menurun, material sedimen kasar yang biasanya membuat air tampak keruh telah tersapu oleh arus yang kuat.

Akibatnya, air sungai lebih banyak didominasi oleh aliran dari danau yang relatif jernih dan mengandung sedimen tersuspensi dalam jumlah lebih sedikit.

“Akhirnya cahaya matahari masuk lebih dalam. Nah, saat itu ada pembiasan cahaya di spektrum warna biru atau hijau zamrud,” jelas Reza.

Secara lebih rinci, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumatera Barat, Ade Edward, menerangkan fenomena aliran Sungai Ombilin yang tampak jernih. Jernihnya Sungai Ombilin tidak lepas dari peran Danau Singkarak. 

Danau Singkarak terbentuk akibat cekungan patahan Sumatera. Danau ini menampung aliran air yang berasal dari kawasan Marapi, Padang Panjang, Solok, serta perbukitan di sekitarnya.

Dari sisi geologi, wilayah Singkarak didominasi oleh batuan vulkanik, endapan sedimen muda, serta batuan kapur. Keberadaan batuan kapur tersebut berperan penting dalam menjaga kejernihan air danau.

Ia menjelaskan bahwa kapur memiliki sifat kimia yang mampu mengikat partikel kotoran di dalam air sehingga menggumpal dan mengendap ke dasar. Mekanisme ini serupa dengan proses penjernihan air yang dilakukan oleh PDAM, hanya saja di Danau Singkarak berlangsung secara alami selama ribuan tahun.

Selain itu, kawasan sekitar danau juga dikelilingi oleh perbukitan karst, seperti Bukit Junjungan Sirih dan Bukit Gagoan, yang secara berkelanjutan menyuplai kalsium karbonat ke perairan danau.

Menurut Ade, kotoran yang masuk ke danau akan terikat oleh kalsium karbonat, menggumpal, kemudian tenggelam. Kondisi tersebut membuat aliran Sungai Ombilin tetap jernih, bahkan ketika sungai-sungai lain di Sumatera Barat berubah keruh akibat banjir atau bencana alam lainnya.

“Longsor di Malalo misalnya, sungainya coklat. Ketika masuk ke Danau Singkarak dia menjadi jernih,” tuturnya.

Saat curah hujan tinggi, pasokan kalsium karbonat meningkat sehingga efek kejernihan air semakin terlihat. Pantulan cahaya dari langit kemudian menimbulkan kesan warna kehijauan pada permukaan air.

“Ketika hujannya lebih lebat, suplai kalsium karbonatnya lebih banyak. Unsur kimia memantulkan warna-warna. Kesannya begitu,” jelas Ade.

Meski Terlihat Aman, Tetap Perlu Uji Sampel Air

Walaupun indah secara visual, Reza mengimbau agar publik maupun pihak berwenang tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa air tersebut berada dalam kondisi aman. Perubahan warna yang mencolok tetap perlu dicermati dan diteliti lebih lanjut secara ilmiah. 

Warna biru kehijauan itu dapat dipicu oleh berbagai faktor lain, seperti keberadaan mineral terlarut, lonjakan populasi fitoplankton atau alga, hingga kemungkinan masuknya bahan pencemar akibar limpasan air hujan yang ekstrem.

“Ini semua perlu kajian, ya, tanpa data saya baru bisa menduga. Akan lebih aman jika instansi teknis di Sumbar (Sumatera Barat) nanti bisa melakukan pengambilan sampel dan analisis kualitas air, sebelum menyimpulkan bahwa fenomena ini sepenuhnya alami dan tidak berisiko,” simpul Reza.

(NY)

Sumber

https://kumparan.com/kumparansains/penjelasan-air-jernih-hijau-zamrud-sungai-batang-ombilin-pasca-banjir-sumatera-26MuMPAZ4hE/full

https://www.liputan6.com/amp/6229784/penjelasan-ahli-geologi-danau-singkarak-dan-sungai-ombilin-tetap-jernih-di-tengah-bencana