Emisi Karbon Lamun di Indonesia Tidak Merata, Jawa dan Sumatra Tertinggi

Kelautan 16 Jan 2026 62 kali dibaca
Gambar Artikel

LingkariNews – Riset terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa emisi karbon dari ekosistem lamun di Indonesia tidak merata. Wilayah pesisir Jawa dan sebagian Sumatra tercatat memiliki nilai tertinggi dibandingkan kawasan pesisir lainnya. 

Kondisi ini menunjukkan bahwa degradasi padang lamun di wilayah barat Indonesia berpotensi melepaskan emisi karbon ke atmosfer dalam jumlah yang lebih besar, sehingga berdampak signifikan terhadap perhitungan emisi karbon nasional.

Gangguan pada Ekosistem Lamun Memicu Emisi Karbon

Penelitian ini dilakukan oleh Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Oseanologi BRIN, A’an Johan Wahyudi, melalui publikasi jurnal ilmiah yang secara khusus mengkaji emisi karbon yang dilepaskan ketika ekosistem lamun mengalami gangguan.

Selama ini, kajian karbon biru lebih banyak menyoroti kemampuan ekosistem pesisir dalam menyerap karbon, sementara emisi karbon akibat kerusakan ekosistem relatif jarang diperhitungkan. 

“Kalau kita bicara karbon biru, selama ini fokusnya selalu pada penyerapan. Padahal, dalam carbon accounting, yang dihitung bukan hanya yang diserap, tetapi juga yang diemisikan,” kata A’an, dalam wawancara dengan Humas BRIN, Rabu (14/1). 

A’an menjelaskan bahwa lamun berperan sebagai penyimpan karbon alami. Namun, fungsi tersebut dapat berubah ketika ekosistem mengalami gangguan atau kerusakan.

Berbagai aktivitas manusia di wilayah pesisir, seperti reklamasi, pengerukan, dan peningkatan sedimentasi, dapat menghambat pertumbuhan lamun, memicu degradasi ekosistem, dan menyebabkan pelepasan emisi karbon ke atmosfer.  

“Sederhananya, ketika lamun sehat, karbon diserap dan disimpan. Namun, Ketika rusak – misalnya karena reklamasi atau pengerukan – daun, akar, dan bagian lamun lainnya mengalami pembusukan. Proses dekomposisi inilah yang melepaskan karbon dioksida ke atmosfer,” jelas A’an.

Faktor Emisi Karbon Lamun sebagai Indikator Degradasi

Dalam riset ini, A’an memperkenalkan metode perhitungan faktor emisi karbon lamun, yaitu angka yang menunjukkan besarnya karbon yang dilepaskan ke atmosfer per satuan luas per tahun akibat degradasi.

“Dalam konteks ekosistem lamun, faktor emisi menunjukkan laju kehilangan karbon yang sebelumnya tersimpan di dalam biomassa lamun dan berpotensi juga mencerminkan proses awal pelepasan karbon dari sistem pesisir,” jelas A’an.

Selama ini, Indonesia masih menggunakan faktor emisi global Tier-1 IPCC, meskipun kondisi lamun nasional sangat beragam. “Padahal kondisi lamun Indonesia, baik dari sisi tekanan aktivitas manusia, dinamika pesisir, maupun stok karbon, sangat beragam dan tidak bisa diwakili oleh angka rata-rata global,” ujar A’an.

Jawa dan Sumatra Catat Emisi Karbon Lamun Tertinggi

Hasil analisis menunjukkan faktor emisi karbon lamun di Indonesia berkisar antara 0,53 hingga 3,25 ton karbon per hektare per tahun. Nilai tertinggi ditemukan di wilayah dengan tekanan pesisir tinggi, khususnya Jawa dan sebagian Sumatra.

“Tekanan antropogenik di wilayah padat penduduk membuat potensi emisinya lebih besar,” ujar A’an.

Temuan ini menegaskan bahwa lokasi degradasi menjadi faktor kunci dalam perhitungan emisi karbon lamun secara nasional, karena kerusakan di wilayah barat Indonesia menghasilkan emisi karbon yang lebih besar dibandingkan wilayah timur dengan luasan yang sama.

(NY)

Sumber

https://brin.go.id/orkm/posts/kabar/riset-brin-ungkap-faktor-emisi-karbon-lamun-indonesia-jawa-sumatra-tertinggi