Perkembangan Pasar Gula Dunia Terkini: Produksi, Konsumsi, dan Dinamika Harga Dunia

Gula 29 Jan 2026 44 kali dibaca
Gambar Artikel

LingkariNews—Dalam dua musim terakhir, pasar gula dunia mengalami fase transisi penting. Setelah sempat berada dalam kondisi defisit, keseimbangan pasar mulai bergeser seiring pemulihan produksi di sejumlah negara produsen utama.

International Sugar Organization (ISO) dalam laporan Sugar Yearbook dan Quarterly Market Outlook terbaru mencatat bahwa struktur pasar gula global kini bergerak menuju kondisi yang lebih seimbang, bahkan mulai menunjukkan surplus moderat pada musim 2025/26.

Perkembangan ini menjadi penanda berakhirnya tekanan pasokan yang mendominasi pasar gula global dalam beberapa tahun sebelumnya.

Perkembangan Produksi Gula Dunia

Produksi gula dunia menunjukkan tren peningkatan yang konsisten sejak 2024/25 dan diperkirakan mencapai level mendekati rekor historis pada 2025/26. ISO memperkirakan produksi gula global pada musim 2025/26 berada di kisaran 181–182 juta ton, meningkat dibanding musim sebelumnya.

Pemulihan produksi di sejumlah negara produsen utama menjadi faktor kunci peningkatan pasokan gula. India dan Thailand mulai kembali mencatatkan kinerja produksi yang lebih baik setelah terdampak gangguan cuaca pada musim sebelumnya.

Di sisi lain, Brasil tetap memainkan peran sentral sebagai penentu pasokan dunia, didukung oleh fleksibilitas tinggi dalam mengalihkan tebu antara produksi gula dan etanol. Selain itu, peningkatan produktivitas tebu di berbagai kawasan Asia dan Amerika Latin turut memperkuat tren kenaikan produksi global.

Dinamika Konsumsi Gula Dunia

Di sisi permintaan, konsumsi gula dunia masih tumbuh, namun dengan laju yang lebih lambat dibanding pertumbuhan produksi. ISO mencatat bahwa konsumsi gula global diperkirakan mencapai sekitar 180 juta ton pada musim 2025/26, dengan tingkat pertumbuhan tahunan sekitar, 1–1,2%.

Pertumbuhan ini ditopang oleh peningkatan permintaan di kawasan Asia dan Afrika yang masih menunjukkan ekspansi konsumsi. Sementara itu, di negara-negara maju, konsumsi gula cenderung stagnan atau mengalami penurunan seiring semakin ketatnya kebijakan kesehatan serta meningkatnya penggunaan pemanis alternatif.

Di sejumlah pasar utama, perubahan preferensi konsumen juga mendorong pola konsumsi yang lebih terkendali, sehingga menahan laju pertumbuhan permintaan global secara keseluruhan.

Neraca Supply–Demand Global

Perubahan paling signifikan dalam perkembangan pasar gula global adalah pergeseran neraca supply–demand. Setelah beberapa musim mengalami defisit, pasar gula dunia kini kembali mencatat surplus, meskipun dalam skala terbatas.

Surplus ini terutama berasal dari:

  • Kenaikan ouput di Asia
  • Produksi Brasil yang tetap tinggi
  • Pertumbuhan konsumsi yang tidak secepat peningkatan produksi

ISO menilai kondisi pasar saat ini berada dalam fase “loosely balanced”, yakni longgar namun belum masuk kategori kelebihan pasokan.

Stok dan Sensitivitas Pasar

Meskipun neraca menunjukka surplus, stok gula global secara historis masih tergolong relatif ketat. Rasio stock-to-use tercatat masih berada di bawah rata-rata jangka panjang, sehingga pasar tetap senisitif terhadap berbagai faktor eksternal, seperti risiko cuaca, kebijakan ekspor, dan fluktuasi energi.

Kondisi ini membuat pasar gula tetap rentan terhadap volatilitas harga, meskipun neraca menunjukkan surplus.

Dinamika Harga Gula Internasional

Sejalan dengan munculnya surplus moderat, harga gula internasional menunjukkan kecenderungan melemah atau bearish ringan. Namun, ISO mencatat bahwa tekanan penurunan relatif terbatas karena stok global yang belum sepenuhnya pulih, ketidakpastian cuaca di negara produsen utama, serta peran kebijakan energi,khususnya etanol di Brasil.

Dengan demikian, meskipun sentimen pasar cenderung netral–bearish, volatilitas harga gula dunia masih tetap tinggi.

Implikasi Perkembangan Pasar Gula Global

Perkembangan pasar gula global saat ini menunjukkan bahwa dunia telah keluar dari fase defisit pasokan, namun belum sepenuhnya berada dalam kondisi aman. Bagi negara importir, seperti Indonesia, kondisi ini relatif lebih kondusif untuk pengadaan gula.

Namun, ketergantungan pada pasar global tetap memiliki risiko, terutama jika terjadi gangguan iklim atau kebijakan perdagangan yang mendadak. Normalisasi pasar gula global juga membuka ruang bagi stabilisasi harga, meskipun potensi fluktuasi jangka pendek masih perlu diantisipasi.

Dengan itu, perkembangan terkini menunjukkan arah normalisasi setelah periode tekanan pasokan. Produksi dunia meningkat dan mulai melampuai konsumsi, menciptakan surplus moderat pada musim 2025/26.

Ada pun stok yang masih relatif ketat dan tingginya sensitivitas terhadap faktor eksternal membuat pasar gula tetap berkarakter volatil. Dalam jangka menengah, stabilitas pasar akan sangat bergantung pada konsistensi produksi, kondisi iklim, serta risiko struktural.

 

(NY)