Kikil Bisa Jadi Hidangan Pelengkap Lebaran, yang Enak Disantap dan Banyak Manfaat

Sains 17 Mar 2026 99 kali dibaca
Gambar Artikel Hidangan lebaran kikil atau tunjang

LingkariNews —  Menjelang Hari Raya Idulfitri, berbagai hidangan khas mulai disiapkan untuk menemani ketupat dan opor di meja makan keluarga. Salah satu olahan yang juga banyak digemari sebagai pelengkap hidangan lebaran adalah kikil atau tunjang, yang kerap diolah menjadi gulai, sop, atau campuran bakso. 

Pelengkap Hidangan Lebaran yang Kaya Protein dan Kolagen

Selain enak untuk disantap, di balik tekstur yang kenyal dan rasa gurihnya, kikil ternyata memiliki kandungan gizi yang cukup banyak. Salah satu nutrisi yang banyak terdapat pada kikil adalah kolagen, yaitu protein struktural yang berperan penting bagi tubuh. 

Kikil atau tunjang dikenal sebagai makanan yang kaya kolagen. Bagian ini merupakan jaringan ikat sapi berupa tulang rawan yang membungkus tulang maupun jari-jari kaki sapi tanpa bulu yang menempel di atasnya. 

Menurut pakar gizi hasil ternak dan teknologi pangan dari Fakultas Peternakan IPB University, Dr. Astari Apriantini, kikil memiliki rasa gurih sekaligus kandungan gizi yang cukup tinggi, terutama protein. Protein pada kikil sebagai besar berbentuk kolagen. 

Dr. Astari menjelaskan bahwa sekitar 30 persen kandungan kolagen dapat ditemukan pada kikil hewan mamalia seperti sapi, kambing, dan kerbau. Dalam 100 gram kikil, kandungan protein dapat mencapai sekitar 96 persen, tidak mengandung karbohidrar, dan hanya sekitar empat persen lemak. 

Selain itu, kandungan kalori pada kikil juga relatif lebih rendah dibandingkan daging sapi. Hal ini karena komposisinya lebih banyak terdiri atas air dan kolagen. Kalori kikil sekitar 146 kalori per 100 gram, sedangkan daging sapi berkisar antara 174 hingga 273 kalori. 

Selain protein, kikil juga mengandung sejumlah mineral penting seperti natrium, selenium, zat besi, kalium, dan kalsium. Selenium berperan dalam menjaga fungsi sistem kekebalan tubuh, zat besi membantu mencegah anemia, sedangkan kalium berperan dalam menjaga fungsi sarap, kontrakasi otot, serta detak jantung yang normal. Sementara itu, kalsium penting untuk menjaga kepadatan tulang dan kesehatan gigi. 

Meski kaya kolagen, tubuh sebenarnya tidak dapat menyerap kolagen dari makanan dalam bentuk utuh. Kolagen perlu dipevah terlebih dahulu menjadi peptida agar dapat diserap melalui usus. Peptida tersebut kemudian digunakan tubuh sebagai bahan pembentuk berbagai protein penting, seperti pembentukan kulit, rambut, dan kuku. 

Kolagen juga dikenal memiliki berbagai manfaat bagi tubuh, mulai dari menjaga elastisitas kulit, memperkiat tulang dan sendi, hingga mendukung kesehatan rambut dan kuku. Selain itu, kolagen juga berpotensi membantu proses penyembuhan luka dan menjaga kesehatan jaringan tubuh. 

Meski Bergizi, Konsumsi Kikil tetap Perlu Dibatasi

Meski memiliki berbagai kandungan nutrisi, konsumsi kikil tetap perlu diperhatikan. Makanan ini mengandung purin yang dapat diolah tubuh menjadi asam urat, serta  kolestrol sekitar 79 mg per 100 gram. 

Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan daging sapi yang berkisar 65–90 mg, namun tetap perlu dibatasi, terutama bagi orang dewasa, penderita asam urat, atau mereka yang memiliki riwayat penyakit metabolik. 

Dr. Astari menyarakan agar satu porsi kikil dikonsumsi sekitar 75 gram dalam sekali makan. Selain porsi, cara pengelolahan juga perlu diperhatikan agar kandungan lemak, kolestrol, dan kalori tidak meningkat, misalnya dijadikan sop, soto, atau campuran bakso, tanpa santan dan minyak berlebih. 

Dengan segala kandungan gizi dan kolagennya, kikil bukan sekadar pelengkap hidangan lebaran, tetapi juga sumber protein dan mineral yang bermanfaat bagi tubuh. Meski begitu, seperti halnya semua makanan, konsumsi kikil perlu disesuaikan dengan porsi dan cara pengelolahan yang tepat. 

Memahami kandungan nutrisi dapat membantu kita menikmati hidangan tanpa mengabaikan kesehatan, sekaligus melihat bagaimana makanan sehari-sehari berperan dalam mendukung fungsi biologis dan metabolisme tubuh. 

(NY)

Sumber 

https://www.ipb.ac.id/news/index/2026/03/kikil-kaya-kolagen-pakar-ipb-university-jelaskan-manfaat-dan-batas-konsumsinya/